Langsung ke konten utama

Menulis saja . . .

Katanya menulis itu adalah salah satu cara agar dapat menapaki pikiran dan hati sendiri. Lalu, saat curiga atas pikiran dan perasaan sendiri, kemarin aku pun menulis (*setelahsekianlama). Tak banyak yang aku tuliskan, awalnya tak tau mau menulis apa. Lalu mulailah ku eja satu demi satu kegiatan dari bangun tidur. Dan . . . kudapatilah isi hati, komentarnya atas tiap hari . . .

Lalu rasanya ingin menulis, lagi dan lagi . . . berharap yang tertulis adalah kejujuran (*bukan pembenaran)

Lalu lagi . . .
Seperti membujuk anak kecil yang sedang merengek dan mengeluh, aku mulai membujuk diri sendiri ini untuk melakukan sesuatu. Setidaknya  berusaha untuk melaksanakan agenda yang ditulis "untuk besok". Aku mau jadi teman yang baik untuk diriku sendiri, mengingatkan, membujuk dan mungkin bahkan berdebat atau menyeret ke dalam kesunyian supaya diam.

Beberapa kali memaksa diri untuk tersenyum saat mengingat asa dan realita. Ha . . Ha . . Ha . .

Ini adalah hasil, jadi jangan mengeluh . . . dan, semuanya belum berakhir!! (*sambil ragu)

:)

Kini, aku tak menjanjikan apa apa pada diri sendiri , . . biarkan ia hidup di hidupnya saja. Ya, Saja . . .

Goodluck young lady, :) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

My eyeglasses

"A text never stands alone, There's always another text that influences the way people see things" Ya kira kira begitu, Bahasan mata kuliah cultural studies yang paling berbekas dihati. Terkadang bertanya pada diri sendiri "kenapa pemikiranku hanya simple dan begitu2 saja, tak se-brilian orang2, banyak melupakan hal2 lain". Ya, karena saya jarang membaca! The other text yang saya punya adalah lamunan2 yang mempertanyakan, pikiran2 tentang "the ideal", dan komentar2 tidak edukatif tentang hal2 yang menurut saya menarik atau aneh. Saya bangga menjadi mahasiswa, dan bertemu orang orang luar biasa, dan dipaksa membaca, dan dituntut untuk tahu banyak, dan.. semakin saya baca banyak.. semakin saya takjub dengan dunia, dan semakin saya merasa tidak tahu apa2. . Kacamata saya terus berubah, bingkainya yang merupakan nilai sosial, dan nilai tentang saya dan Tuhan.. kaca nya sendiri, terus di revisi, di lap, dan dicek.. Semoga selalu lebih mantap, ...

Monalisa 2018.1

Nah, udah 2018 Kaget? Ga juga si, menyesal? Ia sepertinya, tapi da ga boleh. Akhirnya dapet moment juga nulis random di tempat ini (lagi) Abis liat beberapa post terakhir, asa ingin ngaca sambil bilang "meuni ngerakeun!!" wkwkwkwk Kalau udah balik lagi ke sini, berarti ada beberapa hal yang ga bisa ilang di kepala, atau ada hal2 yang lagi perlu ditumpahin tapi ga nemu orang untuk dimintain jadi "tempat sampah" (tempat sampah itu bukan hal yang negatif ya, ini barang penting!! Kebayang kalau di muka bumi ini ga ada tempat sampah? Ya! Berantakan!!" Dan... jadi ya, si Monalisa ini punya cita2 jadi penulis, tapi ga pernah nulis, padahal bertahun2 kerjaannya beliin notes (ceritanya tempat sampah cantik untuk menulis) . . padahal juga, doi tau bahwa menulis itu bisa meningkatkan tingkat kewarasan dan mengurai benang kusut di kepala. Hohoho.. Walaupun kebanyakan yang ditulis sering random, tapi setidaknya isi kepala udah ga random2 amat kalau udah di tumpahi...

and than what. .

Dan hari ini aku sadari, ada pandangan yang salah tentang cinta. Terlalu mengagungkannya sampai kemudian terjatuh sendiri karena cinta. Cinta itu bukan barang langka ternyata. Bukan barang berharga yang selama ini dengan bodohnya aku jaga dan banggakan. Kemarin si bodoh ini berfikir, cinta adalah hal luar biasa yang berasal dr hati terdalam seseorang, untuk seseorang , dan ketika hadirnya mengakar di hati hingga tak tergantikan, Dengan penuh percaya diri hati ini selalu yakin, bahwa di tempat lahirnya cinta, hanya ada satu singgasana, untuk satu orang, dan tak akan tergantikan. Karena disanalah cinta memeliharanya. Hari ini aku ingin katakan, that’s just a bulshit. . Itu hanya pandangan bodoh dari orang bodoh yang terlalu bodoh untuk memahami realita. . Cinta itu hanya panggilan atas desire yang terjadi ketika sebuah gelombang elektromagnetik bekerja atas diri 2 orang yang berlainan jenis, kemudian logika yang bicara, sebuah karakter mencoba membaur dan kemudian beradaptasi, ...